Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Februari 2012

Tak Seberuntung Itu

Jalan kecil nan berkerikil menatapku

Menunggu untuk aku lewati

Dalam setiap aku mencari

Hakikat dari jati diri


Jalan lurus nan halus melihatku

Berharap untuk aku lalui

Dalam setiap aku mencari

Hakikat dari hati


Jalan bergelombang nan panjang mengawasiku

Berharap untuk aku jelajahi

Dalam setiap aku mencari

Hakikat dari raga ini


Jalan berkelok nan pula bengkok mengintaiku

Berharap untuk aku telusuri

Dalam setiap aku mencari

Hakikat dari ketenangan ini


Jalan yang sepi nan pula berduri mengincarku

Berharap untuk aku jamahi

Dalam setiap aku mencari

Hakikat dari penaut hati ini


Tak seberuntung itu aku

Dalam menjelajah semua jalan

Kerana tak berpengalaman

Kerana tak punya kawan


Aku berharap ada yang sudi menjadi pendamping ku

Dalam setiap melalui jalan itu

Sehingga hati ini tertaut

Hanya pada Illahi Rabbi.

readmore »»  

Teruntuk yang Tertuju

Maaf ini mungkin terlalu konyol

Tapi ketika engkau bertanya

Apa makna dari hadirmu untuk aku

Aku hanya bisa terdiam


Maaf mungkin ini terlalu radiculus

Tapi ketika kau berhujar lembut

Apa hakikat dari keberadaanmu untuk diriku

Aku hanya mampu tersenyum


Maaf mungkin ini terlalu gila

Tapi ketika engkau berucap mesra

Apa sejatinya wujudmu untuk bentukku

Aku hanya mampu mengangguk pelan


Dan sekarang izinkan aku menjawab dari bait tanya yang kau ucap

Sebelumnya maafkan aku bila benar khilaf

Tegur aku bisa sudah mulai salah

Dan ajak kembali aku bila melangkah jauh bukan untuk-Nya


Ketika engkau bertanya

Apa makna dari hadirmu untuk aku

Aku hanya bisa terdiam

Karena itulah jawaban ku kelak bila Allah Memanggilku dari sisimu


Ketika kau berhujar lembut

Apa hakikat dari keberadaanmu untuk diriku

Aku hanya mampu tersenyum

Karena itulah yang akan kulakukan dikeseharianku bersamamu dalam keimananku


Ketika engkau berucap mesra

Apa sejatinya wujudmu untuk bentukku

Aku hanya mampu mengangguk pelan

Karena kulihat telah kutemukan satu tulang yang telah hilang dari diriku


Dan kesemuanya itu adalah hanya karena keikhlasan

Bermuara pada pemilik berjuta milyar cinta

Tersimpan rapi di Mega server-Nya

Itulah jawabku atas tanyamu padaku


Teruntuk Ananda yang hatinya sedang bertanya itu padaku.

readmore »»  

Kamis, 08 September 2011

GADIS PASIR (Part 2)


Sebuah Hadiah Kecil

Pagi. Suasana kelas berubah, saat Pak Jarwo membacakan daftar anak yang lulus Unas, Semua bersorak sorai semangat. Aku memperhatikan wajah Elang cerah, meskipun hitam akibat kebiasaannya mencari ikan di Bengawan tak menghilangkan teduh senyumnya yang menduhkan setiap orang yang memandang. Seperti biasa Elang mendapatkan peringkat pertama dalam ujian kali ini. Bukan hanya kali pertama tapi hampir dalam setiap ujian yang laksanakan guru, mulai kelas satu sampai sekarang.
Aku menyendiri. Berada paling belakang, ujung sebelah kiri. Itulah tempat yang paling aku senangi. Elang datang, dia menghampiriku. Entah apa yang akan diucapkannya kali ini, atau apa yang akan ia tanyakan padaku. Mungkin soal kemarin, atau mungkin yang lainnya. Langkah kakinya perlahan namun pasti. Jawaban apa nanti yang harus aku suguhkan untuk memuaskan pertanyaan-pertanyaan yang akan dia ajukan. Ataukah aku harus diam, atau berbohong?
readmore »»  

GADIS PASIR (Part 1)

Di Tepi Bengawan

Setiap manusia pasti akan menjalani apa yang sudah ditakdirkan untuk dirinya. Ada kalanya kita tidak mampu merubah atau dengan sengaja ingin memusnahkannya.
Padang pasir terhampar luas, kilauannya menyilaukan mata tertuju. Burung layang-layang dengan riang menari mengitari riuk air, tanaman kacang-kacangan di sebrang Bengawan menjadi penghijau suasana di gersangnya hari. Matahari dengan gagahnya terus membara memelototi seluruh apa yang ada di bawahnya. Tidak juga aku tapi yang lainnya.
Para Ibu muda dengan anak-anaknya. Para Kakek dengan cucunya, dengan senang menikmati segarnya air Bengawan Solo. Sesekali nampak ikan-ikan kecil datang menghampiriku, mereka berebut menggigit kaki putihku, satu pergi berpuluh datang. Mereka dengan manjanya bermain di bawah tubuhku.
readmore »»  

Minggu, 26 Juni 2011

SHAFF ITU IDA (cerpen)

Sekuat karang dilautan barisan itu, bertegar dari deburan ombak yang mengamuk bersama sang waktu, menyisakan bait-bait puisi untuk di kenang para penikmat mimpi, dalam peluh yang menjadi tak seberapa, dalam duka yang menjadi tak sekira, dalam senyum syahadatnya menggema kealam raya, dengan khusyu’ sang imam mulai memimpin barisannya, pasukan penuh semangat, runtuhkan kesombongan pekat.
Lusuh raga, peluh tubuh, kumal jiwa, hilang tak berbekas, terbesut basuhan air wudlu di subuh yang berkabut. Iqomah mengalun merdu, menggema di penjuru langit Duduk. Masih tersisa sahutan ayam pejantan memanggil sang fajar yang malu-malu masih sembunyi di ufuk timur.
readmore »»